Community Education Tech & Startups

Mempersiapkan Masa Depan Anak Muda Indonesia di Tahun 2045

Putra Nababan saat memberikan materi di acara 17an DiMenara

Bagaimana Indonesia di tahun 2045, 100 tahun setelah merdeka? Bagaimana anak muda Indonesia di tahun 2045? Bagaimana proses karya para pemuda Indonesia di tahun 2045?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, merupakan pertanyaan yang menjadi sumber pikiran dan keresahan banyak orang. Salah satunya, Putra Nababan. Jurnalis senior yang telah berkecimpung dalam dunia jurnalistik dan media nasional selama 23 tahun tersebut merasakan keresahan terhadap kondisi anak muda sekarang, khususnya kenyataan bahwa banyak di antara mereka ternyata berkarir di bidang yang tidak sesuai talentanya.

Berbicara di acara “17-an Di Menara: Kibar x Koran TEMPO” Kamis (17/8) lalu dalam sesi bertajuk “Anak Muda Indonesia di Masa Depan”, Putra mengawali cerita dengan berkisah tentang jenjang yang dilewatinya dalam perjalanan karirnya sejak awal hingga sekarang. Memulai dari umur 20 sebagai reporter untuk Majalah Forum Keadilan, Putra kemudian juga menjajal dunia presenter berita di televisi nasional yakni di Metro TV dan RCTI.

Putra pernah menduduki berbagai posisi antara lain Deputy Chief Editor dan News Anchor di RCTI, serta terakhir sebagai CEO Metrotvnews.com di Metro TV hingga tahun 2017, sebelum pada akhirnya memutuskan beranjak dari dunia jurnalistik dan televisi. Salah satu prestasinya yang paling mengesankan semasa di dunia pemberitaan tentunya ketika di Maret 2010 Putra mewawancarai (kala itu masih menjabat) Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Interview eksklusif tersebut merupakan wawancara pertama oleh jurnalis Indonesia di Gedung Putih terhadap seorang presiden Amerika Serikat.

Dengan pencapaian yang boleh dibilang menjadi impian banyak orang di bidang yang sama, kenapa Putra lantas memutuskan meninggalkan dunia tersebut dan memulai di bidang baru?

“Apakah kita the right man at the right place?” tanya Putra. Pertanyaan tersebut yang menjadi kuncinya.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika pertumbuhan di berbagai sektor menjadi sedemikian cepat, imbasnya akan membutuhkan lebih banyak lagi sumber daya (manusia) yang berkualitas. Putra pernah menyampaikan tentang peringkat kualitas sumber daya manusia Indonesia yang berada di urutan 90 dari 118 negara menurut Global Talent Competitiveness Index (GTCI) tahun 2017. Survei yang dirilis JP Morgan dan Singapore Management University (SMU) pada November 2016 lalu juga mengungkapkan jumlah penduduk usia 15-24 di Indonesia yang tidak bekerja juga mencapai 20%, angka yang tertinggi dibandingkan empat negara Asia Tenggara lainnya (Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina).

Lalu Putra menegaskan lagi pertanyaannya: sejauh mana kesiapan sumber daya kita di Indonesia untuk mencapai target menjadi pemimpin ekonomi digital di Asia Tenggara? Akankah Indonesia nantinya hanya menjadi negara penampung bagi sumber daya negara lain? Mampukah talenta di Indonesia mampu bersaing dan menjadi tuan rumah di negara sendiri?

Seperti yang diketahui, Indonesia mengincar posisi untuk menjadi pemimpin ekonomi di kawasan Asia Tenggara di tahun 2020. Google dan Temasek juga telah mengadakan riset tentang prediksi nilai ekonomi digital di tahun 2025 yang diperkirakan akan mencapai $200 miliar. Tiga sektor utama penyumbangnya datang dari sektor e-commerce, travel online, dan media online. E-commerce diperkirakan akan mencapai nilai $88 miliar, sementara travel online mencapai $90 miliar dan media online (iklan dan gaming) mencapai $20 miliar. Indonesia disebut dalam laporan tersebut merupakan negara dengan pertumbuhan pengguna internet tertinggi di dunia, dari 92 juta di 2015 hingga diperkirakan mencapai 215 juta di tahun 2020. Angka-angka yang luar biasa.

Tantangan sekaligus kesempatan yang meresahkan tersebut yang mendorong Putra mendirikan IDTalent, sebuah platform digital untuk talent acquisition. IDTalent bertujuan menghubungkan sumber daya Indonesia yang berkualitas dengan perusahaan yang membutuhkannya.

“Banyak yang sekarang bekerja di bidang yang bukan passion-nya, bidang yang bukan minat mereka dan mereka tidak memiliki talenta di bidang tersebut,” ujar Putra menyoroti kondisi anak muda Indonesia sekarang.

Tidak hanya masalah passionskill yang dibutuhkan juga masih tidak banyak dimiliki anak muda Indonesia. Putra bicara tentang tiga jenis skill yang menurutnya sangat dibutuhkan di masa sekarang dan mendatang:

  1. Agile Thinking: ketangkasan untuk mempertimbangkan dan menyiapkan strategi menghadapi berbagai skenario, inovasi, kompleksitas dan ambiguitas
  2. Interpersonal dan komunikasi: kemampuan kreatif dan berbagi ide, kemampuan membangun hubungan baik dengan customer serta membentuk tim
  3. Global operating: kemampuan untuk menangani sumber daya dari berbagai latar belakang

Selain itu, Putra menegaskan, hal lain yang perlu dimiliki anak muda Indonesia adalah kesadaran diri. Kesadaran diri di sini bermakna pemahaman terhadap diri sendiri, potensial yang dimiliki, pengembangan yang perlu dilakukan, serta perencanaan masa depan yang baik.

Passion, disebut Putra sebagai hal utama yang akan membantu anak muda Indonesia dalam proses menemukan jati diri ini. Passion akan membawa anak muda Indonesia memiliki sifat persistent, tidak gampang menyerah dalam mengejar target.

“Kepintaran saja tidak cukup, karena sangat dibutuhkan persistensi dalam mengejar hal-hal yang sesuai dengan passion. Dengan passion, orang jadi persistent, kekeuh istilahnya, dalam usahanya tersebut,” tegas Putra.

Dengan IDTalent, Putra berharap dapat memberikan solusi untuk salah satu permasalahan utama terkait sumber daya berkualitas di Indonesia. Dengan berkurangnya permasalahan sumber daya, langkah Indonesia untuk memimpin ekonomi digital Asia Tenggara tentunya akan semakin lancar. Dengan demikian, bukan tidak mungkin, di tahun 2045, Indonesia menjadi pemimpin ekonomi digital Asia atau bahkan dunia.

Acara “17-an di Menara” diselenggarakan oleh Kibar dan Tempo.
Recap bernaung di bawah Kibar.

Artikel ini ditulis oleh Linda Chan di Recap.id. Silakan klik link ini untuk menuju ke sumber aslinya.

 

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published.